JADI REMAJA GAUL YANG SEHAT

Remaja masih disebut anak karena menurut UU Perlindungan Anak Nomor 23 tahun 2002, “anak adalah semua yang berusia 18 tahun (termasuk yang masih dalam kandungan). Setiap anak berhak hidup, tumbuh, berkembangdan berpartisipasi secara wajar, sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Yang harus diingat, dimana ada hak, berarti terdapat tanggung jawab, ” kata Menkes, Dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, saat membuka seminar “Aku dan Temanku, Bisa Jadi Remaja Gaul Sehat” yang dihadiri 220 siswa dan guru perwakilan dari 22 sekolah di DKI Jakarta, belum lama ini.

Puskesmas PKPR

Menkes mencermati kemajuan teknologi informasi di era globalisasi ini dapat memengaruhi nilai-nilai budaya. Para remaja dapat mengakses informasi yang berdampak positif maupun negatif bagi kehidupannya.

“Remaja memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan dan mengambil keputusan sesuai perkembangannya”, ujarnya.

Selain itu, Menkes memberikan perhatian atas maraknya perilaku kekerasan pada anak, tampak dikalangan pelajar. “Siapa yang bisa melindungi kalian? Perlindungan yang terbaik adalah oleh diri kalian sendiri dan temanmu yang terdekat. Teman yang baik adalah yang membuat kita lebih baik dan kita saling membantu untuk menjadi labih baik,” ujar Menkes kepada para siswa.

Sebagian besar remaja, lanjutnya, mendapat informasi tentang kesehatan reproduksi dari sebayanya. Mereka lebih sering curhat dengan teman sebayanya, bukan kepada guru atau orangtua.

Karena itu, Kemenkes melakukan pendekatan ke masyarakat melalui jalur Puskesmas Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (Puskesmas PKPR). Di Puskesmas PKPR dikembangkan program konselor sebaya (peer counselor). Sebagai konselor sebaya, para remaja menjadi jembatan antara remaja dengan orangtua, guru dan tenaga kesehatan, untuk dapat memberikan informasi kesehatan yang benar dan membantu teman sebaya yang mempunyai masalah kesehatan. Dengan cara ini, diharapkan para remaja yang mempunyai masalah dapat mencari jalan keluar dari orangtua, guru atau tenaga kesehatan. Bukan mencari solusi pada teman sebaya yang mungkin memberikan informasi yang tidak bertanggung jawab.

Pernikahan Dini

Mengenai perilaku pacaran di masa remaja, Menkes menyatakan bahwa pacaran yang baik semestinya dapat membuat kita lebih baik, menjadi calon istri atau suami yang baik. “Hubungan pacaran yang tidak sehat sangat berisiko terhadap penyakit kelamin atau HIV/AIDS. Ada yang tidak terinfeksi penyakit, tetapi berisiko kehamilan yang tidak dikehendaki (KTD). Inilah pentingnya pengetahuan tentang pacaran yang sehat. Sebaiknya jangan ada pacaran kalau ujung-ujungnya hubungan seks berisiko, ” katanya.

Selain dibekali pengetahuan, menurut Menkes, harus ada penguatan secara agama dan moral secara utuh untuk bisa memberikan kakuatan iman dan mental pada generasi muda untuk menjauhi perilaku berisiko. Karena itu, Menkes mengharapkan keluarga dapat membekali anak-anak denga nilai-nilai panutan, tuntunan yang baik, dan life-skill, sehingga anak-anak dapat memilih kegiatan positif yang bermanfaat bagi kehidupan mereka dan menghindari pergaulan yang berdekatan dengan perilaku berisiko.

Di sisi lain, masyarakat hendaknya ikut berperan dalam memastikan generasi muda kita mendapat informasi yang sehat dan benar. “Kepada para remaja Indonesia, carilah teman yang senantiasa membuat kamu lebih baik, dan jadilah teman yang baik bagi teman-temanmu, ” tambah Menkes.

Masalah kesehatan pada anak usia sekolah berbeda-beda menurut kelompok umurnya. Pada siswa Sekolah Dasar (SD), masalah kesehatan terkait dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang belum diterapkan dengan baik, seperti masalah kecacingan, kesehatan gigi mulut, dan anemia. Sementara pada siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah (MA), masalah yang dihadapi terkait dengan kurangnya pengetahuan kesehatan dan perilaku berisiko, seperti merokok dan pacaran tidak sehat. Juga masih terjadi pernikahan usia dini (15-19 tahun). Pasangan remaja yang menikah usia dini berisiko tinggi karena dapat menyebabkan kematian perinatal, neonatal, dan bayi, kematian ibu saat melahirkan, serta berisiko melahirkan bayi pendek (stunting).

SUMBER : GAYA HIDUP SEHAT, TAHUN XIII, No. 18/27 JULI – 02 AGUSTUS 2012 Hal : 28

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s