KIAT MEMULAI MAKAN SEHAT DI RUMAH

BUANG MAKANAN DALAM KALENG
Jika Anda pernah berpikir bahwa makanan kaleng adalah makanan sehat, berarti Anda salah. Menurut situs No More Flab, jika dalam satu kaleng sup mengandung lebih 1.000 mg sodium, atau garam, per takar saji, berarti itu sudah terlalu banyak. Tubuh memerlukan hanya 2 gram garam per hari.
Pilih sup dengan kadar sodium lebih rendah. Pilihan lebih baik adalah membuat sup sendiri dan kurangi atau hindari garam. Semakin kreatif Anda di dapur, Anda akan takjub, betapa mudah bisa makan sehat di rumah.

KANDUNGAN GULA
Selain garam, yang patut diperhatikan adalah kandungan gula per takar saji. Tidak boleh lebih dari 5 gram. Paling banyak 6 gram.
Sangat penting untuk memperhatikan kandungan gula, terutama jika memilih makanan untuk anak-anak. Ketika memilih makanan untuk orang dewasa, pastikan juga kandungan serat minimal 10 gram per takaran saji.

SAYURAN DAN BUAH
Sayuran adalah pilihan bijak, baik yang akan dikonsumsi mentah atau diolah terlebih dahulu. Jangan lupa untuk mengunyah apel. Atau iris apel menjadi juring-juring dan olesi dengan selai kacang.
Sediakan beragam buah supaya ketika keinginan untuk mengemil timbul, setidaknya buah-buahan telah tersedia. Untuk Anda yang gemar jus buah, pastikan membuatnya tanpa tambahan gula. Juga jangan terlalu banyak minum jus buah. Satu gelas per hari sudah cukup.

BERAT BADAN TERJAGA
Jika Anda sedang melakukan program penurunan berat badan, dengan memperhatikan makanan apa saja yang dibawa kedapur, program Anda tersebut bisa sukses. Buat daftar dan buang semua makanan yang tidak ada dalam rencana makan sehat yang Anda canangkan.

SUMBER : GAYA HIDUP SEHAT, TAHUN XIII, No. 19/03 – 09 AGUSTUS 2012, Hal : 16

JADI REMAJA GAUL YANG SEHAT

Remaja masih disebut anak karena menurut UU Perlindungan Anak Nomor 23 tahun 2002, “anak adalah semua yang berusia 18 tahun (termasuk yang masih dalam kandungan). Setiap anak berhak hidup, tumbuh, berkembangdan berpartisipasi secara wajar, sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Yang harus diingat, dimana ada hak, berarti terdapat tanggung jawab, ” kata Menkes, Dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, saat membuka seminar “Aku dan Temanku, Bisa Jadi Remaja Gaul Sehat” yang dihadiri 220 siswa dan guru perwakilan dari 22 sekolah di DKI Jakarta, belum lama ini.

Puskesmas PKPR

Menkes mencermati kemajuan teknologi informasi di era globalisasi ini dapat memengaruhi nilai-nilai budaya. Para remaja dapat mengakses informasi yang berdampak positif maupun negatif bagi kehidupannya.

“Remaja memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan dan mengambil keputusan sesuai perkembangannya”, ujarnya.

Selain itu, Menkes memberikan perhatian atas maraknya perilaku kekerasan pada anak, tampak dikalangan pelajar. “Siapa yang bisa melindungi kalian? Perlindungan yang terbaik adalah oleh diri kalian sendiri dan temanmu yang terdekat. Teman yang baik adalah yang membuat kita lebih baik dan kita saling membantu untuk menjadi labih baik,” ujar Menkes kepada para siswa.

Sebagian besar remaja, lanjutnya, mendapat informasi tentang kesehatan reproduksi dari sebayanya. Mereka lebih sering curhat dengan teman sebayanya, bukan kepada guru atau orangtua.

Karena itu, Kemenkes melakukan pendekatan ke masyarakat melalui jalur Puskesmas Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (Puskesmas PKPR). Di Puskesmas PKPR dikembangkan program konselor sebaya (peer counselor). Sebagai konselor sebaya, para remaja menjadi jembatan antara remaja dengan orangtua, guru dan tenaga kesehatan, untuk dapat memberikan informasi kesehatan yang benar dan membantu teman sebaya yang mempunyai masalah kesehatan. Dengan cara ini, diharapkan para remaja yang mempunyai masalah dapat mencari jalan keluar dari orangtua, guru atau tenaga kesehatan. Bukan mencari solusi pada teman sebaya yang mungkin memberikan informasi yang tidak bertanggung jawab.

Pernikahan Dini

Mengenai perilaku pacaran di masa remaja, Menkes menyatakan bahwa pacaran yang baik semestinya dapat membuat kita lebih baik, menjadi calon istri atau suami yang baik. “Hubungan pacaran yang tidak sehat sangat berisiko terhadap penyakit kelamin atau HIV/AIDS. Ada yang tidak terinfeksi penyakit, tetapi berisiko kehamilan yang tidak dikehendaki (KTD). Inilah pentingnya pengetahuan tentang pacaran yang sehat. Sebaiknya jangan ada pacaran kalau ujung-ujungnya hubungan seks berisiko, ” katanya.

Selain dibekali pengetahuan, menurut Menkes, harus ada penguatan secara agama dan moral secara utuh untuk bisa memberikan kakuatan iman dan mental pada generasi muda untuk menjauhi perilaku berisiko. Karena itu, Menkes mengharapkan keluarga dapat membekali anak-anak denga nilai-nilai panutan, tuntunan yang baik, dan life-skill, sehingga anak-anak dapat memilih kegiatan positif yang bermanfaat bagi kehidupan mereka dan menghindari pergaulan yang berdekatan dengan perilaku berisiko.

Di sisi lain, masyarakat hendaknya ikut berperan dalam memastikan generasi muda kita mendapat informasi yang sehat dan benar. “Kepada para remaja Indonesia, carilah teman yang senantiasa membuat kamu lebih baik, dan jadilah teman yang baik bagi teman-temanmu, ” tambah Menkes.

Masalah kesehatan pada anak usia sekolah berbeda-beda menurut kelompok umurnya. Pada siswa Sekolah Dasar (SD), masalah kesehatan terkait dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang belum diterapkan dengan baik, seperti masalah kecacingan, kesehatan gigi mulut, dan anemia. Sementara pada siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah (MA), masalah yang dihadapi terkait dengan kurangnya pengetahuan kesehatan dan perilaku berisiko, seperti merokok dan pacaran tidak sehat. Juga masih terjadi pernikahan usia dini (15-19 tahun). Pasangan remaja yang menikah usia dini berisiko tinggi karena dapat menyebabkan kematian perinatal, neonatal, dan bayi, kematian ibu saat melahirkan, serta berisiko melahirkan bayi pendek (stunting).

SUMBER : GAYA HIDUP SEHAT, TAHUN XIII, No. 18/27 JULI – 02 AGUSTUS 2012 Hal : 28

CEGAH DATANGNYA SAKIT HATI

Gejalanya tak nyata. Gejala awal yang kadang dikeluhkan seperti mual, lemes, cepat lelah pun tidak khas karena bisa terjadi pada penyakit lain. Kalaupun tidak sakit, orang yang terinfeksi hepatitis (pembawa) bisa menularkan infeksi kepada orang lain.

“Jadi kuncinya adalah skrining,” kata Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Ditjen P2PL Kemenkes RI ini.
Jika hasil skrining ketahuan terjadi infeksi, bisa dilakukan pengobatan, sehingga meminimalisasi transmisi lebih lanjut kepada sekitarnya. Nantinya skrining atau penapisan akan dijadikan program nasional sebagai bagian dari upaya pengendalian hepatitis di Indonesia. Untuk tahun 2012-2013 di DKI Jakarta, tindakan skrining akan dilakukan terhadap petugas kesehatan seperti dokter, dokter gigi, perawat, bidan, dan petugas laboratorium, yang termasuk kelompok risiko tinggi.

BANYAK WAKTU PERBAIKI HATI
Ditambahkan oleh Dr. Rino A. Gani, Sp.PD-KGEH, FINASIM, dari FKUI-RSCM, perjalanan penyakit hati tergolong lama. “Sejak terjadinya infeksi untuk berkembang menjadi sirosis perlu waktu 20-30 tahun, sedangkan untuk terjadinya kanker hati sekitar 30-40 tahun. Jadi sebetulnya ada banyak waktu untuk melakukan pencegahan agar tidak menjadi lebih berat, ” ungkapnya.
Saat ini Kimia Farma sudah memproduksi obat untuk hepatitis B dengan harga terjangkau, dan beberapa tahun terakhir pengobatan hepatitis juga sudah dijamin Askes. “Harga obat sebetulnya bukan faktor utama. Karena tidak tahu dirinya terinfeksi, atau kalau tahu tetapi tidak merasa sakit, sehingga tidak berobat. Stigma bahwa kalau ketahuan hepatitis B bisa tidak naik pangkat, ini juga memengaruhi penerimaaan terhadap pengobatan. Jadi penanggulangan hepatitis memang harus mendapat dukungan semua pihak, ” papar Dr. Rino.
Ia pun kembali mewanti-wanti tentang pentingnya memeriksakan diri. “Jika keluarga ada yang hepatitis, atau beberapa kali ditransfusi, lalu tentara yang hidup dalam satu lingkaran sangat dekat, sehingga bisa menggunakan pisau cukur bersama-sama, sebaiknya melakukan skrining, ” ujarnya.

SUMBER : GAYA HIDUP SEHAT, TAHUN XIII No. 19/03 – 09 AGUSTUS 2012, Hal : 27